.

[ Explore Jakarta ] - Menelusuri Jejak Kejayaan Kawasan Pasar Baru ( Passer Baroe )

11:22:00 PM







Mungkin ada benarnya juga jika Jakarta disebut sebagai Kota Pusat Perbelanjaan atau surga belanja kaum metropolitan. Karna bukan hanya karna banyaknya mall di Jakarta, mulai dari mall kecil, sedang bahkan besar dan mentereng dan mewah pun di sini ada, melainkan sudah sejak dulu. Sebutan ini bukan muncul akhir-akhir ini saja, melainkan sejak Jakarta masih bernama Batavia kala itu. Memang, ketika masih bernama Batavia, saat itu belum ada mall-mall besar di Jakarta, tapi jangan salah, saat itu sudah ada lho pusat perbelanjaan terbesar di Batavia, namanya Passer Baroe atau yang dikenal saat ini sebagai Pasar Baru.


Kala itu, menurut Wikipedia ,Passer Baroe dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1820 untuk memenuhi kebutuhan belanja dan pusat perdagangan dari warga Belanda yang tinggal di sekitar Risjwijk atau yang dikenal sekarang sebagai daerah di sekitar Jalan Veteran. Passer Baroe dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa. Sehingga tidak heran jika hingga saat ini masih ditemukan arsitektur bergaya Tiongkok di Passer Baroe. Seperti pintu gerbangnya yang beraksitektur Tiongkok.



Ratusan tahun berlalu, namun Pasar Baru tidak menghilangkan identitasnya sebagai cikal bakal pusat perbelanjaan di Jakarta. Meskipun hiruk pikuknya tidak seramai dulu saat Jakarta masih bernama Batavia atau kala mall-mall besar Jakarta belum semenjamur saat ini, Pasar Baru masih memiliki magnet sendiri bagi beberapa pengunjungnya. Selain belanja barang-barang murah, mulai dari tekstil, peralatan make up, kamera, serta sentra jahit pakaian yang didominasi oleh pedagang asal India ataupun warga Indonesia keturunan India yang juga bermukim di sekitaran Pasar Baru. Sehingga tidak heran jika Pasar Baru juga disebut sebagai area Little India di Jakarta.




Selain sebagai salah satu tempat belanja murah, Pasar Baru juga dijadikan sebagai spot bagi para pecinta bangunan tua bersejarah dan bagi fotografer untuk mengabadikan bagunan tersebut ke dalam kamera mereka. Bagi pecinta bangunan tua dan situs bersejarah, Pasar Baru menawarkan beberapa bangunan tua yang masih ada sampai sekarang. Beberapa bangunan tua masih ditemukan di kawasan ini walapun tidak sebanyak dulu. Bahkan saat ini kita masih bisa melihat sebuah toko tua yang dulu merupakan sebuah rumah mewah dari seorang mayor Batavia asal Tiongkok kala itu - mengutip buku The Kapitan China of Batavia 1837-1842 yang bernama Mayor Tio Tek Ho. Toko tersebut saat ini bernama Toko Kompak yang dibangun di tahun 1800-an. Mayor kala itu posisinya sama seperti seorang Bupati saat ini.



Tidak hanya itu, jika kita berpindah ke Jalan Antara yang juga terletak di kawasan Pasar Baru, kita masih bisa menemukan bangunan tua peninggalan Belanda, yaitu Gedung Antara. Menurut Wikipedia, Gedung Antara dulunya adalah gedung kantor untuk ANETA ( Algemeen Nieuws - en Telegraaf - Agentschap) atau dalam Bahasa Inggrisnya adalah General News & Telegraph Agency, yang merupakan agen berita pertama pada kependudukan kolonial Belanda di Indonesia.

Office building of Antara in 1971.Credit : Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures
By Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=8572397

Bangunannya bergaya tropical art deco. Terdapat jam di bagian depan dan dua menara penangkal petir. Kala itu bangunannya terlihat sangat elegan dan megah, namun dengan bertambahnya waktu saat ini bangunannya terlihat kumuh bahkan di depannya terdapat atap terpal yang malah memperburuk keadaannya. Tidak pasti, apakah bangunan itu masih digunakan atau tidak. Namun, berbeda dengan bangunan di sampingnya yang saat ini digunakan sebagai art galery tentang sejarah jurnalistik Indonesia. Yang dulunya mungkin masih bagian dari gedung Antara. Gedung di sampingnya masih terawat dengan baik. Banyak foto-foto terpampang di dalamnya. Dan untuk masuk ke dalam galeri seni itu gratis kok. Walapun saat itu saya tidak sempat masuk ke dalam, karna sudah keburu lapar.

Kondisi Gedung Antara saat ini. Source : Photoblog Dedi Dwitagama - WordPress.com


Source : https://metro.tempo.co/read/651491/jakarta-tempo-doeloe-disamber-gledek

Berbicara soal kuliner, di Pasar Baru juga banyak yang menjual jajanan pasar yang murah meriah. Contohnya sate kikil. Jujur, saya belum pernah mencoba sate kikil sebelumnya. Dan ketika mencoba, rasanya enak dan harganya murah hanya IDR 10.000 / 3pcs. Dan karna saat itu saya lapar berat, maka saya mampir ke rumah makan ayam penyet dan iga penyet. Seporsinya untuk paket Iga Penyet sudah termasuk nasi, tempe tahu, dan es teh manis cuma dihargai IDR 37.500 sudah termasuk pajak. Lumayan murah meriah dan mampu mengganjal rasa lapar dan lelah.





Tidak jauh dari gerbang Pasar Baru, ada gedung yang menarik perhatian saya. Gedung Kesenian Jakarta. Bentuk bangunan khas negeri Belanda atau Eropa selalu berhasil mencuri perhatian saya. Apalagi, gedung ini pernah menjadi sangat terkenal ketika ada suatu program acara komedi tradisional di televisi yang mampu membuat saya terpingkal-pingkal saking lucunya, Ketoprak Humor.





Untuk masuk ke dalam halaman Gedung Kesenian Jakarta, tidak perlu izin khusus. Cukup lapor ke petugas keamanan dan bisa mengambil gambar di depan halaman Gedung Kesenian Jakarta. Karna saat itu udara Jakarta panas banget, maka istirahat sambil duduk-duduk di tangga masuk Gedung Kesenian Jakarta adalah upaya yang tepat. Dan ketika panasnya cuaca sudah sangat membuat kulit menjadi perih, maka kembali ke rumah adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya masih banyak wisata sejarah di sekitaran Pasar Baru yang bisa dikunjungi. Sebaiknya memang harus mengunjungi sore hari untuk bisa menikmati semuanya.



 XoXo
Vindri Prachmitasari

Instagram      : @veendoorie
Twitter           : @veenzy
Facebook       : https://web.facebook.com/Vindri.P


You Might Also Like

4 comments

  1. Kemarin cuma lewat aja di sini. Sebenernya banyak tempat di Jakarta yang pingin dieksplorasi, tapi hawanya yang panas bikin moodnya belum kesampaian. Terima kasih sudah berbagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, cuaca panaa memang selalu jd penghalang. Pdhl byk bngt yg pengem dikunjungi.

      Delete
  2. Replies
    1. Yup, Jakarta selalu bisa menyimpan keindahannya sendiri :)

      Delete

Followers

Popular Posts

The House of Full of Story

Selamat datang di rumah saya yang penuh dengan cerita tentang perjalanan, buku, pemikiran, dan apa pun yang mungkin saja akan saya tuangkan.

Jangan lupa untuk share cerita kalian di kolom komentar yah supaya bisa menjadi inspiriasi baru buat saya dan teman-teman lainnya.

=========================================

Welcome to my house that full of joy of story about traveling, book, random thought and anything that i will share in this blog.


Dont forget to share anything in comment section so it become new insight for me and other readers.


Contact me : Vindri.prachmitasari@gmail.com

Phone : +62-85218846138

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe