.

[ Edisi Karawang ]- One Day Trip to Karawang

11:08:00 PM



Rencana traveling berikutnya, masih beberapa minggu lagi, kerjaan day to day di perusahaan logistik yang nggak kenal ampun makin bikin otak dan badan udah berontak minta jalan-jalan. Kalau kayak gini jadinya, demi kelangsungan keremajaan otak dan kecantikan kulit yang paripurna, maka traveling kudu dilaksanakan. Otak dan badan juga butuh piknik, biar tetap sehat menghadapi kejamnya dunia.

Lalu, kudu ke mana ketika mendadak dangdut gini? Beli tiket kayaknya nggak mungkin, apa kabar nanti dengan rencana traveling saya ke Myanmar di awal April? Bisa berantakan kalau dipaksain kudu beli tiket. Jadi, jalan satu-satunya adalah memanfaatkan hari kejepit tanpa harus mengajukan cuti dan tanpa harus memperpanjang liburan. Lebih hemat dan tetap bisa liburan.

Lalu, ke manakah kaki saya harus melangkah? Bagaimana kalau ke Karawang? Lokasi dekat dengan Jakarta, cukup naik kendaraan pribadi dan langsung sampai hanya butuh 2-3 jam perjalanan melewati tol dengan catatan jalanan lagi bersahabat.

Wait? Wait? Karawang? Karawang yang banyak kawasan industrinya itu? Karawang yang tempatnya customer perusahaan logisitk saya berkerja berada di sana? Trus Karawang yang pernah dijadikan judul puisinya Chairil Anwar yang judulnya Karawang-Bekasi itu?

Iya..iya..iya! Karawang yang itu dan nggak ada yang lain, wahai Mantili!

But, why? Kenapa? Waeyo?

Karna ternyata di Karawang juga memiliki hidden gem yang bisa membuat siapapun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti ngeliat cowok cakep lewat dan langsung berseru di dalam hati ’ dia adalah jodohku yang selama ini aku cari! Gue harus kenalan, gue harus deketin!’ Eaaa..

Lalu, apa saja yang bisa ditemukan di Karawang? Mari kita bahas satu per satu perjalanan yang saya lakukan selama di Karawang di hari kejepit tersebut.

     1.Vihara Sian Jin Ku Poh.

    Seperti biasa, saya selalukan melakukan research kecil-kecilan untuk menentukan lokasi mana saja yang akan saya kunjungi selama di Karawang. Dan tetiba vihara cantik ini muncul dalam situs pencarian saya. Tanpa pikir panjang lagi, Vihara Sian Jin Ku Poh langsung masuk ke daftar rencana perjalanan saya.

    Vihara ini terletak di Kampung Benteng, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. Merupakan sebuah vihara bagi penganut Buddha Mahayana yaitu umat Buddha yang mayoritas penganutnya kaum imigran dari negeri Tiongkok. Dari segi lokasi, vihara ini akan mudah terlihat dari depan jalan, karna terdapat gapura khas Tiongkok berdiri di depan sebuah gang yang nantinya akan mengantar pengunjung untuk tiba di lokasi Vihara. 

    Tersedia parkiran yang cukup luas untuk menampung sekitar 10-15 kendaraan mobil di depan vihara dan tidak ada biaya masuk untuk mengunjunginya. Tenang saja, tidak ada larangan bagi pemeluk agama lain untuk mengunjungi Vihara ini walaupun awalnya saya ragu untuk masuk karna takut menggangu haha. Namun, diharapkan untuk tetap menghormati orang yang sedang bersembahyang di sana dengan tidak berisik dan menggangu proses sembahyang mereka. 


    Saat memasuki vihara ini, jujur saya langsung terpesona oleh keindahan arsitektur viharanya. Didominasi warna merah dan coklat tua membuat arsiktektur vihara ini semangat. Memang warnanya sendiri kebanyakan sama seperti vihara-vihara yang ada, namun arsitekturnya persis seperti arsiktektur yang ada negeri Tiongkok dengan atap berbentuk dua pelana. Pada bagian atasnya terdapat papan dengan tulisan hurus Tiongkok. Saya sendiri cukup lama berada di gerbangnya hanya untuk memperhatikan detail dari bangunannya. 


    Lalu, saat masuk ke dalam terdapat sebuah altar dengan tungku besar yang terdapat abu untuk sembahyang di di dalamnya. Nama altarnya sendiri adalah altar Thian Seng yaitu altar untuk persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lalu, di belakang altar tersebut terdapat beberapa lilin besar yang sedang menyala berjejer rapi di kanan dan kiri yang sejajar dengan altar tersebut. 



    Yang membuat menarik adalah, banyaknya lampion yang digantung di langit-langit vihara yang terdapat beberapa kertas yang berisi tentang nama-nama usaha dagang atau perusahaan yang dimiliki serta pemiliknya dan berbagai keinginan mereka akan usaha mereka dituliskan di kertas yang digantung di bawah lampion tersebut. 


    Tidak banyak catatan sejarah tentang vihara pertama dan tertua di Kota Karawang ini. Di situs Dinas Pariwisata Jawa Barat sendiri hanya menceritakan sedikit tentang sejarah Vihara ini. Menurut informasi dari situs Dinas Pariswisata Jabar sendiri, diceritakan bahwa pada sekitar tahun 1700-an pedagang bermarga Elan, Kho, dan Ciau datang ke Karawang kemudian membangun Vihara. Mula-mulanya menghadap ke arah sungai ( barat ), namun di tahun 1800-an terjadi kebakaran sehingga Vihara ini kemudian dibangun lagi untuk mengikuti kaidah Hong Shui lalu diubah arahnya menghadap timur ( arah kehidupan ). Pemugaran tersebut berlangsung selama 3 tahun yaitu di tahun 1863-1865. Dan saat ini Vihara ini dikelola oleh Yayasan Sian Djin Ku Poh. 
    Alamat : 
    Kampung Benteng, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat

      
    HTM : 
    Gratis ( cukup menyumbang seiklasnya di kotak dana yang disediakan)

    2. Komplek Situs Candi Batujaya


    Selama ini, yang banyak diketahui bahwa candi-candi itu banyak tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Sumatera Selatan. Namun, bagaimana dengan Jawa Barat sendiri? Belum banyak yang tahu kan kalau Jawa Barat tepatnya di Karawang juga memiliki situs candi yang nggak kalah menarik untuk dikunjungi. 

    Situs candi yang ada di Karawang yaitu Komplek Situs Candi Batujaya. Lokasinya sendiri berada sekitar 40 km dari pusat Kota Karawang dengan mengendarai mobil pribadi. Saya belum mencari tahu apakah ada angkutan umum yang ke arah sana sebenarnya. Jika melihat dari jaraknya sendiri memang terasa sangat jauh, namun jika sudah sampai di lokasi, pantat yang mulai tepos akibat kebanyakan duduk di dalam mobil akan terbayarkan sama keindahan dari situs candi tersebut.

    Situs candi yang dikelilingi oleh hijaunya sawah membuat mata seakan-akan tersihir sejenak oleh pemandangan indah itu. Makanya, jarak tempuh yang lumayan jauh tidak membuat saya menyesal untuk melakukan perjalanan jauh ke situs candi ini. Lokasinya sendiri berada di pemukiman warga dan di tengah persawahan. Makanya untuk tempat parkir sendiri masih menggunakan area halaman warga dan hanya cukup membayar seikhlasnya ke petugas yang berada di pintu masuk area situs candi, karna memang tidak ditetapkan berapa tarif yang dikenakan. 



    Sebelum mencapai dua area situs candi, pengunjung akan menemukan Situs Damar, yaitu semacam reruntuhan batu-batuan yang berada di samping rumah warga. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di Situs Damar tersebut serta tidak informasi Situs Damar tersebut dulunya berupa apa. Jalan kaki sekitar 100 meter melalui jalan yang sudah dibeton dan dikelilingi oleh pemandangan persawahan, kita akan tiba di Situs Candi Jiwa. 


    Situs candinya sendiri terlihat begitu dirawat karna ada dikelilingi taman kecil di sekitaran candi dan dipagari. Pengunjung bisa masuk ke dalam area yang dipagari namun tidak boleh turun ke bagian halaman candinya. Bentuk candinya sendiri hanya berbentuk persegi tanpa anak tangga di sekelilingnya, menurut informasi bahwa memang candi ini hanya untuk tempat persembahyangan di sekitarnya saja, bukan sebuah bangunan seperti candi-candi kebanyakan. Dan diperkirakan di tengah candi tersebut terdapat sebuah patung Buddha pada saat pembuatannya. 

    Candi Jiwa

    Menurut informasi yang tertera di halaman candi, Candi Jiwa adalah sebuah candi yang dibangun pada abad ke 5-7 Masehi saat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara. Dan disebut-sebut sebagai candi tertua di Jawa. Jika melihat dari bentuk paling bawah candi tersebut, terlihat jelas bahwa bangunan candi ini masih terlihat cukup sempurna karna tidak hanya berupa reruntuhan batu-batuan saja tetap masih memiliki fondasi batu bata yang kuat, walaupun patung Buddha-nya sendiri sudah tidak ada.

    Jika berjalan ke arah sebelah lokasi Candi Jiwa, sekitar 100 meter lagi, maka akan ditemukan sebuah situs candi lainnya. Candi tersebut bernama Candi Blandongan. Nah, bedanya dengan Candi Jiwa, Candi Blandongan ini memiliki anak tangga di bagian depan dan ada bagian atas candi yang menyerupai sebagian ruangan sehingga bisa dikatakan bahwa pada zaman itu candi ini difungsikan untuk bisa dinaiki di atasnya. Dan menurut informasi bahwa memang ada stupa di bagian atasnya karna beberapa batuan bulat ditemukan di sekitaran candi yang diduga sebagai bagian dari ruangan stupa tersebut sehingga kemungkinan besar bahwa sebagian ruangan yang terlihat saat ini adalah tempat stupa itu berada. 

    Candi Blandongan
    Candi Blandongan juga dibuat sekitaran tahun yang sama dengan Candi Jiwa yaitu di abad 5-7 Masehi di bawah pemerintahan Kerajaan Tarumanegara. Jika dibandingkan dengan Candi Jiwa, luasan taman di sekitaran Candi Blandongan dan bangunannya candi sendiri lebih besar. Yang saya sukai berada di area candi ini adalah terawatnya akses menuju candi dan masyarakatnya juga ikut mengelola. Ini dibuktikan dengan adanya beberapa taman yang hijau di sekeliling candi-candi tersebut, akses jalan di tengah persawahan yang sudah dibeton dan juga terdapat sebuah museum yang tidak jauh dari pintu masuk utama ke area situs candi ini. Sayang, saat itu saya tidak sempat ke museumnya karna wakutnya mepet untuk menuju ke tempat berikutnya. 


    Sebenarnya, di sekitaran Candi Jiwa dan Candi Blandongan masih terdapat beberapa situs yang masih dalam proses penggalian, jadi besar kemungkinan di tengah sawah yang ada saat ini, masih terdapat gundukan tanah yang mungkin saja adalah sebuah situs candi-candi lainnya. 

    Alamat :
    Desa Segara, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat


    HTM :
    Bayar seikhlasnya saat di pintu utama dan di pintu masuk ketika masuk ke Candi Blandongan ( Untuk petugas taman ) 
    Jam Buka
    08.00 - 16.00   

    3. Hutan Kertas Karawang Timur


    Setelah menghabiskan waktu mengunjungi Situs Candi Batujaya, maka tidak ada salahnyamelepas lelah dengan menghirup udara di tengah hutan sambil menyesap secangkir teh dan menikmati manisnya roti bakar. 



    Hutan Kertas sendiri terletak di Ciampel, Karawang adalah sebuah hutan Eukaliptus yang berada di samping pintu tol Karawang. Ini bukan hutan main-mainan yang terbuat dari kertas lho, tapi dinamakan Hutan Kertas karna pemilik hutan tersebut adalah PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills, itu lho perusahaan kertas milik Sinarmas Group. Sementara properti kafe dan hammock yang ada di hutan tersebut adalah milik Karang Taruna di sana.

    Awalnya hutan ini sering digunakan oleh komunitas hammock di Karawang lalu muncullah ide untuk membuat hutan yang nyaman, yang dilengkapi dengan alunan musik serta bisa mencicipi makanan dan minuman buat perut yang lapar. Maka ide tersebut didukung oleh PT. Pindo Deli sehingga muncullah Hutan Kertas sebagai salah satu tempat wisata Kota Karawang. 


    Untuk bisa masuk ke sana cukup membayar HTM sebesar IDR 10.000 per orang, namun bagi lansia tidak dikenakan biaya. Ada banyak meja kursi dan hammock yang disediakan sehingga bisa sekedar duduk-duduk sambil menikmati udara di dalam hutan dan juga bisa memesan makanan dan minuman yang ada di sana. Tenang untuk harga makanan dan minuman relatif terjangkau, semuanya di bawah IDR 30.000 per porsi. Menunya sendiri bermacam-macam, mulai dari minuman teh hingga Nasi Goreng. 


    Waktu terbaik untuk mengunjungi Hutan Kertas adalah ketika sore hari menjelang malam. Karna lampu-lampur di dalam hutan mulai dinyalakan yang membuat suasana di dalam hutan lebih terasa romantis lho. Apalagi di bagian belakang hutan terdapat lampu warna warni yang bisa digunakan sebagai spot foto untuk mengisi feed instagram kalian lho. Jangan khawatir bagi muslim yang ingin tetap menjalankan sholat lima waktu, terdapat mushola yang disediakan pengelola hutan serta tempat wudhu dan alat sholatnya, sehingga tidak ada alasan untuk tidak sholat magrib yah temans. 


    Oia, saran aja, ketika meniatkan untuk mengunjungi Hutan Kertas sebaiknya membawa losion anti nyamuk yah, karna ketika malam menjelang, nyamuknya mulai ganas. 
      
    Alamat :
    Kutamekar, Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41363


    HTM :
    IDR 10.000 per orangLansia gratis 
    Jam Buka :
    Senin - Kamis, Minggu = 10.00 - 23.00
    Jumat - Sabtu = 09.00-01.00  


Gimana? Cakep kan wisatanya? Sebenarnya masih banyak tempat wisata di daerah Karawang juga wajib juga dikunjungi. Namun, kalau semuanya dikunjungi bukan one day trip lagi dong judulnya. Lagipula dengan tempat wisata yang ketjeh-ketjeh seperti itu saja sudah mampu membuat otak saya seger lagi, muka berseri, dan mata kembali berbinar-binar. So, one day trip sepertinya harus menjadi salah satu agenda harus harus diadakan berkelanjutan.

Kalau kalian, biasanya one day trip-nya ke mana aja nih? Share dong buat ide next trip hihihi.

See yaa!
Vindri Prachmitasari

Email            : vindri.prachmitasari@gmail.com
instagram      : @veendoorie
FacebookFans Page              :https://web.facebook.com/Vindri.Prachmitasari.Author


You Might Also Like

4 comments

  1. ternyata banyak sekali yaa wisata di Karawang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak banget.. mungkin karna kurang promosi jadinya masih banyak yang belum tau..

      Delete
  2. Saya udah setahunan pindah ke Karawang dan baru tau kalo di Karawang ada tempat sekece hutan kertas sama candi-candi gitu. kalo yang Vihara udah sering lewatin karena lokasinya emang pas tengah kota banget...
    Bisa nih masuk wish list jalan-jalan hemat ^^

    ReplyDelete

Followers

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe