.

[ Edisi Yangon ] - Yangon, Old But Gold.

8:25:00 PM




Dulu, yang ada di otak saya untuk mengunjungi negara-negara ASEAN selain negara sendiri adalah hanya sekitar Singapore, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Di luar negara itu saya nggak punya informasi jauh soal negara ASEAN lainnya. Bahkan berniat untuk mengunjungi. Seharusnya hal ini nggak boleh yah, karna setiap kota, negera itu punya kecantikannya masing-masing terlepas mereka merupakan destinasi wisata terkenal atau bukan.
Lalu, saya pun berpikir, kalau sudah lama juga nggak mengunjungi tempat baru, di negara baru. Dan entah kenapa, pilihan saya jatuh ke Yangon, Myanmar. Oke, salahkan beberapa cerita dari travel blogger seperti Bang Ahmadi, Mbak Dini, yang berhasil meracuni dengan ke eksotisan dari negara Myanmar. Saat ke Myanmar, saya memang hanya memutuskan ke Yangon saja, karna waktu cuti yang terbatas, makanya nggak bisa mengunjungi kota lain seperti Bagan, Mandalay, dan Inle Lake.

Tiket akhirnya dibeli di bulan Februari, dan berangkat di 3-8 April 2019 dengan menggunakan Air Asia. Memang jika melihat tanggalnya sekitar cukup lama juga saya melakukan trip ini ke Myanmar, tapi ini tidak seperti yang dibayangkan. Karna tidak ada penerbangan langsung ke Yangon setahu saya dari Jakarta, maka harus transit di Kuala Lumpur selama 5 jam membuat saya tiba di Yangon di tanggal 4 April pada pagi hari. begitu juga sebaliknya saat pulang di tanggal 7 April dan tiba di Jakarta di tanggal 8 April. Jadi, total waktu yang saya habiskan untuk menikmati Myanmar hanya 3 hari saja.

Sekilas Tentang Myanmar


Burma atau Myanmar adalah sebuah negara berbentuk republik persatuan yang baru aja membuka diri dari dunia luar setelah dikuasai oleh kekuasaan Junta Militer sejak tahun 1962 hingga 2011. Walaupun kenyataannya, kekuasaan militer masih menggeliat di Myanmar. Permasalahan yang dihadapi negara ini juga masih banyak. Apalagi issue tentang warga Rohingya yang merupakan warga minoritas di daerah Rakhine. Jadi, untuk menuju negara demokrasi, sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama. Padahal mereka sudah jauh lebih lama merdeka dari jajahan Inggris di tahun 1948, namun sayang mereka masih terus dijajah oleh elite politik dan militernya sendiri sejak tahun 1962 hingga 2011. Dan sejujurnya, masih banyak issue yang terjadi di Myanmar. Namun, bukan berarti negara ini tidak pantas untuk dikunjungi, kan? Apalagi, sejak 2014, Myanmar membebaskan visa bagi WNI selama 14 hari untuk berkunjung ke Myanmar.

Ibu kota Myanmar bukan lagi di Yangon atau dulu dikenal dengan sebutan Rangoon. Karna sejak tahun 2005 berdasarkan keputusan Junta Militer, ibukotanya berpindah menjadi di Naypyidaw. Walapun begitu, tetap saja soal infrastruktur, Yangon masih juaranya.

Oia, sekilas warga lokal Yangon mirip dengan orang Indonesia lho. Kulit sawo matangnya dan garis-garis wajahnya. Yang bikin beda, cewek-cewek Yangon badannya langsing-langsing. Arrgghhh, bikin iri aja bagi saya yang berbadan mirip Kim Kardashian versi super KW nya. Beneran deh, langsing-langsing cuy. Seperti badan anak-anak SMP dan SMU gitu.



Bagi, teman traveler muslim lainnya, jangan takut kalau nggak bisa melaksanakan ibadah di sini. Masjid di Yangon cukup banyak kok. Makanan halal juga banyak tersedia di sini, tinggal mau cari aja sih sebenarnya. Gaya masjidnya sendiri beraksitektur campuran kolonial dan India. Sepanjang jalan saya dari hostel tempat menginap, sering banget nemuin masjid yang berdiri kokoh berdekatan dengan tempat ibadah umat lainnya. Dan umat beragama di sini bisa dengan mudah melaksanakan kewajiban agama mereka.





Waktu di Yangon, setengah jam lebih lambat dari Jakarta. Jadi, setengah jam lebih mudah dong dari Jakarta hahah.






Transportasi


Selama ini, ketika traveling saya selalu mengunjungi negara-negara yang modern dan memiliki sistem transportasi yang memudahkan wisatawannya. Jadi, mengunjungi Myanmar sebenarnya sedikit khawatir. Saya tidak terlalu berharap tinggi mengenai Yangon pada awalnya, yaa karna sistem transportasi yang dibilang masih terbatas, kendala bahasa dan tulisan, tidak begitu modern seperti Jakarta atau negara lainnya serta informasi how to get ke tempat wisatanya yang masih kurang, maka saya lumayan pusing untuk menentukan tempat wisata yang ingin saya kunjungi. Tapi, bukan traveling namanya jika tidak mengalami kendala di suatu negara. Maka, berbekal hajar bleh dan beberapa informasi yang sudah saya kumpulkan di itinerary saya, show must goes on.

Perjalanan yang cukup panjang dan sedikit melelahkan akhirnya sirna ketika pesawat sudah mendarat di Bandara Internasional Yangon, Myanmar. Bandaranya tidak kecil dan tidak juga sebesar Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta atau bandara modern lainnya, sedikit seperti Bandara Terminal 3 lama sih sebenarnya. Jadinya, waktu tempuh ke bagian imigrasi tidak terlalu jauh dan lama seperti bandara lainnya yang kadang kudu melewati setengah terminal dulu baru sampai di bagian imigrasinya.

Proses imigrasi yang cepat, langsung membawa saya untuk keluar mencari bus menuju pusat kota Yangon. Awalnya sedikit kesulitan dengan lokasi menunggu busnya, karna tidak ada informasi atau papan petunjuk di mana saya harus menunggu. Maka sedikit kelimpungan ketika keluar dari bandara harus dihadapkan dengan beberapa supir taksi yang mencoba menawarkan jasa mereka. Nggak ada yang salah sih, cuma karna saya adalah budget traveler maka pilihan naik taksi hanya saya ambil ketika kepepet. Saya lebih memilih naik bus seharga 500 Kyat per orang untuk menuju pusat kota Yangon. Yang ternyata lokasinya terletak di dekat pintu masuk keberangkatan. Tinggal nyebrang dikit, dan bus Airport - Sule sudah terlihat sedang menunggu penumpang.



Di hari pertama kedatangan di Yangon, saya sudah mulai bersyukur karna bisa lahir dan tinggal di Indonesia, di mana di beberapa kota besar sistem transportasinya sudah terasa lebih baik, seperti di Jakarta. Sudah ada MRT, Transjakarta, Komuter Line, Kereta Bandara, dan taksi online yang memudahkan siapa saja yang ingin berkunjung ke Indonesia, khususnya Jakarta. Petunjuk mengenai lokasi transportasinya dan stasiunnya juga sudah lebih baik. Jadi, sebenarnya Indonesia itu sama sekali tidak ketinggalan, hanya saja baru mulai memperbaiki dan mengejar ketinggalan.

Selama berada di dalam bus yang cukup bagus menurut saya,sudah ada kendala yang berarti. Walaupun sudah dilengkapi AC namun sayangnya minus informasi nama pemberhentian halte dan tujuan halte berikutnya. Yaa, itu akan menjadi hal kecil sih kalau kamu jago membaca aksara Burma, tapi bagi saya dan wisatawan lainnya, ini adalah hal yang cukup krusial. Tidak ada informasi sama sekali, jadinya saya sibuk membuka google map dan menjadi cenayang untuk menebak-nebak pemberhentian halte serta memastikan bahwa saya turun di halte yang benar.



Ada beberapa pilihan transportasi di Yangon yang bisa digunakan selain bus YBS ( Yangon Bus Service ). Seperti taksi, taksi online dan kereta. Tapi, untuk kedua pilihan tersebut juga jangan terlalu banyak berharap. Taksinya sendiri tidak seperti taksi di Jakarta yang menggunakan jenis mobil yang bagus dan nyaman digunakan. Di Yangon, taksi yang dimaksud interior dalamnya seperti mobil di tahun 70’an. Itu juga berlaku untuk taksi online. Karna taksi online di sini walaupun sudah menggandeng salah satu merek taksi online terkenal yang juga digunakan di Indonesia, namun jangan harap jika mobil pribadi yang digunakan, karna mobil yang digunakan adalah jenis taksi itu sendiri yang sudah berkerja sama. Jadi tidak ada yang mewah.



Lalu, ngomongin soal kereta, di Yangon sendiri terkenal dengan Circular Train yaitu jenis kereta yang berputar searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam di waktu-waktu tertentu. Jika dibandingkan dengan kereta Komuter Line Jabodetabek, Circular Train ini lambat banget. Malah bisa bikin saya bobo siang karna diayun-ayun dengan pelan selama perjalanan. Apalagi ini menggunakan AC alami, makin menguap mulu lah saya di dalam kereta. Dan lagi-lagi tidak ada petunjuk pengeras suara atau tanda pemberhentian di suatu halte. Pintar-pintarnya membaca tanda saja yang ada di stasiun. Kalau kelewat yaa wasalam tunggu kereta balik lagi. Harganya murah, hanya 250 Kyat per orang.



Circular Train di Yangon itu seperti kondisi kereta Jabodetabek di awal 2000an. Pedagang masih bisa masuk ke dalam gerbong kereta sambil menjajakan makanannya. Kursinya sendiri seperti kursi KOPAJA, pokoknya jadul banget deh.

Di Yangon, sepeda motor dilarang digunakan. Sehingga, selama di Yangon, saya tidak pernah melihat motor berkeliaran. Karna memang ada peraturannya. Anehnya, peraturan tsb tetap ditaati lho.


Macet..Macet.. dan Macet


Sama seperti Jakarta, sepanjang perjalanan menuju pusat kota Yangon dari bandara yang saya temukan adalah macet yang panjang. Sepanjang perjalanan hanya kemacetan yang saya lihat. Waktu tempuh yang mungkin bisa ditempuh selama 1 jam menjadi 2 jam. Namanya juga negara berkembang, jadi yaa seperti itu. Tapi, untungnya kemacetan itu hanya berlaku di jam-jam sibuk aja. Ketika pagi hari saat mulai beraktifitas dan ketika waktu pulang kerja. Sisanya, yaa nggak macet-macet amat sih.

Cuaca Panas


Nggak heran memang jika melihat hampir semua perempuan lokal di sini menggunakan Thanaka, yaitu semacam bedak dingin tradisional Myanmar yang biasa digunakan di pipi, kening, dan hidung sebagai tabir surya. Cuaca di Yangon, memang panas banget. Selama di sana, saya sering banget berkeringat. Bahkan bisa bikin baju jadi basah. Penggunaan Thanaka pun digunakan ketika beraktifitas lho. Bahkan dipakai ketika bekerja, sekolah, ke pasar, ke mall dan lain-lain. Jadi, bukan jadi masker perawatan setiap akhir Minggu.



Pemandangan melihat perempuan Myanmar menggunakan Thanaka bisa dilihat setiap hari. Mungkin, Thanaka sendiri sudah seperti make up yah kalau di Myanmar. Karna di Yangon, saya jarang melihat wanita Yangon full make up seperti di Jakarta yang kadang-kadang bikin silau hahah. Saya sendiri saja ketika di Yangon, lebih banyak menggunakan pelembab dan sunscreen SPF 50+++ untuk mencegah sinar UV yang kayaknya lebih banyak di Yangon deh. Karna kalau beneran make up, bisa-bisa meleleh karna keringat.

Old But Gold


Satu hal yang bikin saya takjub sama Yangon adalah kotanya yang tua. Sepanjang mata memandang Yangon itu seperti Jakarta di tahun 70an. Kalau yang pernah liat film Warkop DKI di zaman dulu, pasti tahu suasananya kayak gimana. Banyak banget bangunan tua peninggalan kolonial Inggris yang masih digunakanan, ruko-ruko tua yang warna catnya sudah memudar, serta warganya yang masih menggunakan kain sarung atau yang mereka sebut dengan longyi untuk pergi ke manapun, termasuk ke kantor. Tidak hanya untuk wanita tetapi juga para pria Myanmar.



Yang membedakan longyi versi wanita dan pria adalah coraknya. Jika wanita, longyi yang digunakan memiliki corak yang lebih menarik dibandingkan prianya. Unik dan aneh banget sih bagi wisatawan melihat banyak warga Myanmar masih menggunakan longyi di segala tempat. Memang, di Indonesia sendiri ada juga sih yang pakai sarung, cuma tidak seperti di Myanmar yang ke kantor, ke mall, ke bandara dan tempat lainnya masih menggunakan longyi/sarung. Di Indonesia pakai sarung cuma sebatas di rumah, ke tempat ibadah dan ketika berkumpul dengan keluarga aja. Makanya, selama di Yangon, hal ini menjadi tontonan unik buat saya.







Karna seringnya melihat para pria di sana menggunakan Longyi, maka timbul pertanyaan. Mereka pake short pants lagi gak yak? Karna sering banget di tempat umum mereka suka memperbaiki sarungnya. Dan kalau dilihat sih agak kurang sopan sih hahah. Terus, bagi pria yang memakai longyi, mereka selalu menyimpan ponsel mereka dengan cara menaruhnya di antara longyi mereka di bagian belakang. Jadi kayak cuma disisipin di longyinya tanpa khawatir akan dicopet.

Masyarakat di sini juga masih kental dengan urusan menguyah daun sirih. Jadi, jangan heran yah jika banyak banget yang menjual sirih sebagai jajanan kaki lima serta melihat orang-orang meludah sisa sirih di sembarang tempat. Makanya banyak banget bercak warna merah yang ditinggalkan di aspal jalan gegara nguyah sirih tersebut. Ngeliat hal itu jadi berasa bukan tinggal di kota besar di suatu negara jadinya, tapi berasa tinggal di suatu desa di Indonesia. Karna hal-hal tersebut sering saya temukan ketika berkujung ke kampung halaman.



Kendala bahasa yang bikin agak susah di sini. Walaupun begitu bukan berarti mereka tidak ramah. Mereka sepertinya terbiasa dengan wisatawan yang datang, hilir mudik di sekitar mereka, karna tidak ada tatapan khusus, aneh, ataupun cat calling yang biasa dilakukan oleh beberapa orang di Indonesia ketika bertemu dengan wisatawan di sekitar mereka. Jadi, berada di Yangon, seperti memiliki privasi yang membuat rasa aman ketika ingin berkunjung ke tempat-tempat wisata di Yangon. Apalagi untuk solo traveling.

Satu hal yang saya suka tentang Yangon. Orang-orangnya nggak kelihatan stress. Beneran deh. Selama jalan-jalan ke tempat wisata, di mana pun itu, warga Yangon tidak kelihatan stres-nya. Baik itu karna beban kerjaan, atau beban hidup. Pagi-pagi saja mereka sudah tertawa dengan teman, tetangga, bahkan dengan pedagang langganan mereka. Begitu juga dengan warga kelas bawahnya.

Walaupun kelihatannya mereka bekerja jor-joran, tapi nggak ada sedikitpun terlintas wajah-wajah stress karna kurangnya penghasilan mereka hari ini, atau kelelahan serta wajah penuh keluh kesah di wajah mereka. Mereka tetap menikmati kerjaan mereka walaupun itu terasa sulit bagi orang biasa. Mungkin, itu yang harus jadi pelajaran bagi semura orang. Bahwa, seberat apa pun hidup,tetap harus dijalani dengan ikhlas dan tetap bersyukur. Karna setiap keluhan yang muncul akan memberatkan hidup itu sendiri. Yang ada malah tambah cepat tua. Skin care mana pun nggak bisa bikin awet muda kalau kayak gitu mah.

 

Mata Uang


Mata uang yang digunakan adalah Kyat ( dibaca : chat) . 1 Kyat = 10 Rupiah. Jadi, tinggal dikali 10 aja untuk mengonversi mata uangnya. Di Indonesia sendiri mata uang Kyat tidak dijual. Jadi lebih baik untuk membeli Dollar terlebih dahulu lalu menukarkannya di money changer di Yangon. Atau menarik uang di ATM saat di bandara.

Yangon juga menerima mata uang Dollar sebagai alat transaksi, tapi lebih baik menggunakan mata uang Kyat untuk sekedar membeli atau membayar ongkos transportasi, karna sayang banget harus menghabiskan Dollar karna nilai konversinya sendiri yang cukup tinggi.





Yangon memang terlihat tertinggal dengan beberapa negara ASEAN lainnya yang sudah lebih dulu modern. Namun, dibalik kotanya yang tua, terdapat beberapa hal yang tidak ditemukan di beberapa negara modern lainnya. Keramahan warganya lokalnya, kecintaannya mereka terhadap tradisi dengan tetap memakai longyi di mana pun, serta mereka masih bisa menikmati hidup walaupun terlihat susah dan bangunan tua peninggalan kolinal Inggris yang banyak dihampir semua lokasi di Yangon.



Menikmati Yangon, seperti menggunakan mesin waktu untuk menyusuri Jakarta di tahun 70an. Semuanya masih terasa lapang dan jauh dari hustle bustle sumpeknya perkotaan. Tapi, itu menariknya. Sesuatu yang kurang, bukan berarti buruk. Karna less is more dan Yangon is old but he is gold.

See Ya !

Vindri prachmitasari

Email                  : vindri.prachmitasari@gmail.com
Instagram           : @veendoorie 




You Might Also Like

6 comments

  1. makin penasaran sama yangon.
    Kalo di Indo, ibaratnya bedak dingn thanaka itu kayak kalo berangkat kerja pake bedak tapi cemong cemong. Unik juga di sana ya, pemakaian thanaka udah biasa aja utk kesehariannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya bener banget, pakai bedak yang cemong-cemong yah

      Delete
  2. Seperti Jakarta di era 70 an, clasik bgt donk yah.

    Ada yang unik, motor tidak boleh berkeliaran. Terus macet macet macet. Itu macet kenapa kak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karna pemerintah Yangon melarang penggunaan motor karna dulu tingkat kecelakaan akibat motor tinggi. Makanga dilarang. Macet yaa karna sistem transportasi nya masih blm baik sementara kendaraan makin banyak.

      Delete
  3. Wahh OLD BUT GOLD banget nih..
    btw kalau dikonversikan ke rupiah, berapa ya habis pengeluaran di Yangoon itu? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengeluaran yang saya habiskan selama di Yangon di luar tiket pesawat kurang dari 2 juta rupiah saja. Itu sudah termasuk makan, ongkos transportasi, dan beberapa oleh-oleh..

      Delete

Followers

Popular Posts

The House of Full of Story

Selamat datang di rumah saya yang penuh dengan cerita tentang perjalanan, buku, pemikiran, dan apa pun yang mungkin saja akan saya tuangkan.

Jangan lupa untuk share cerita kalian di kolom komentar yah supaya bisa menjadi inspiriasi baru buat saya dan teman-teman lainnya.

=========================================

Welcome to my house that full of joy of story about traveling, book, random thought and anything that i will share in this blog.


Dont forget to share anything in comment section so it become new insight for me and other readers.


Contact me : Vindri.prachmitasari@gmail.com

Phone : +62-85218846138

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe