.

[ Unspoken Thoughts ] - Shit Always Happens in Traveling

9:20:00 PM


Hidup itu selalu berputar. Ke atas dan ke bawah. Senang maupun sedih. Lucu dan menjengkelkan. Semuanya ada. Begitu juga dengan traveling. Tidak ada yang sempurna, bahkan ketika semuanya sudah tertata dengan rapi ada saja yang hal-hal yang bikin emosi naik turun terjadi. Dan itu tidak hanya terjadi di satu destinasi saja. Bahkan di destinasi negara populer dan tingkat transportasi yang nyaman, masih juga ga selalu sempurna. Gak selalu manis terkadang pahit dan kecut juga.

Jadi, jangan pernah percaya setiap foto yang di-posting di Instagram selalu berjalan manis seperti hasil dari fotonya. Atau berharap kisah traveling seperti film Hollywood ” The Holiday” yang kalo traveling trus ketemu cowok cakep dan bisa dijadiin pacar. Atau kayak drama Korea ” The Packages” yang tour guide nya jadian sama anggota travel. Hufft.. your wishes.

Karna kita hidup di dunia yang keras yang tiap hari mampu nampar wajah kita, maka mari kita mengulik kisah kecut dan pahit di setiap traveling yang saya lakukan.

Baca juga : [ Edisi Macau ] - Pengalaman Cross Border ke Zhuhai - Tiongkok


Ketinggalan connecting flight ke Seoul - Korea Selatan

Menjengkelkan memang. Ketika waktu keberangkatan tiba, yang otomatis bikin hati deg-deg-an saking senengnya karna dalam hitungan jam akan tiba di Seoul. Kota favorit pencinta drama Korea dan boy group. Tapi, gimana jadinya ketika semua rencana yang sudah dibuat sebelumnya harus berakhir dengan ketinggalan connecting flight. Gimana bisa? Oh, tentu saja bisa terjadi wahai Kisanak. Mari memulai bercerita.

Jadi saat di Jakarta, sudah diinfokan kalau akan delayed, dan ada salah satu penumpang yang nanya ke petugasnya, karna statusnya delayed apakah connecting flight di KUL nya juga akan delayed aka nungguin kita yang udah dijadwalin untuk menaiki connecting flight tersebut. Dan menurut petugasnya, mereka sudah infokan hal tersebut ke pihak maskapai di KUL-nya. Oke, artinya saya nggak perlu khawatir dong.

Tapi memang yah, realita itu sakit banget dibanding ngayal. Sesaimpainya di KLIA 2, saat masuk ke bagian counter transfer, penjanganya memang udah nggak ada. Saat itu masih positif aja mikirnya, mungkin langsung bisa masuk ke gate nya kali. Yo wes, jalan aja lagi ke bagian x-ray, dan ketika ditanya sama petugas imigrasi x-ray tsb pada mau ke mana dan kita info kalau mau ke Incheon, mereka bilang, kalau pesawatnya sudah boarding dari tadi. Whatttt!!!

Muka yang udah lelah akibat penerbangan malam , harus ngalamin hal yang bikin emosi mau meledak. Jadinya, banyak penumpang lain yang juga mengalami hal yang sama seperti saya harus marah-marah ke petugas maskapai untuk meminta konfirmasi dan kejelasan atas apa yang terjadi. Dan setelah pergumulan panjang dengan petugas maskapainya, akhirnya saya dijadwalkan untuk menaiki pesawat esok harinya di jam 7 pagi yang artinya akan tiba di Seoul sore hari. Rencana di hari saat tiba ambyar gegara delayed tsb.

Baca Juga : [ Edisi Macau ] - Itinerary Macau 2 Hari 1 Malam


Demo Besar-besaran di Hong Kong Selama Berbulan-bulan

Nasib pembeli tiket murah dari setahun sebelumnya yaa gini nih. Sebulan menjelang keberangkatan ke Hong Kong saya kerjaan saya tiap hari mengecek status di Hong Kong. Apakah kondusif untuk tetap didatangi saat kondisi seperti itu. Dan akhirnya karna demo yang tidak kunjung selesai membuat saya harus mengubah itinerary saya. Agak pusing. Karna artinya saya harus memulai dari awal lagi membuatnya dan membuat waktu yang saya habiskan di Hong Kong hanya 2 hari saja yang harusnya bisa lebih banyak. Akhirnya saya menghabiskan lebih banyak waktu di Guangzhou - Tiongkok. Dan untung saja ketika di Hong Kong, demo tsb hanya terjadi di akhir pekan saja. Artinya tidak akan mengganggu kegiatan kerja di hari kerja. Dan untungnya lagi saya di Hong Kong bukan saat akhir pekan. Jadi, aman terkendali.

Walaupun begitu hal yang begitu dikeselin adalah kamera saya rusak ketika memasuki Hong Kong di hari terakhir. Kesel banget rasanya. Jadinya selama di Hong Kong, saya hanya bisa mengabadikan Hong Kong dengan kamera handphone yang kapasitas storage-nya udah abis. Walhasil, saya harus menghapus beberapa aplikasi yang ada di handpone hanya agar saya bisa motret.


Kartu Kredit gak bisa diakses di mesin EDC

Nggak ngerti ini karna mesin EDC nya yang nggak bisa digunakan atau memang kartu saya yang nggak bisa dipake. Kadang kayak gini nih yang mengkhawatirkan. Ketika uang di dompet menipis, ATM udah tutup, mau nggak mau untuk bisa check in harus menggunakan kartu kredit. Sebenarnya paling males menggunakan kartu kredit saat traveling karna bisa borong banget. Makanya kartu kredit itu hanya sebagai cara akhir ketika segala upaya sudah dilakukan tetapi masih tidak berhasil. Makanya saya selalu bawa tiga kartu kredit saya. Hanya untuk berjaga-jaga.




Kejadian ini ketika mau late check in di Shenzhen setelah dari Guangzhou via kereta cepat. Tiba di hotel hampir jam 12 malam bikin saya nggak sempat untuk ambil duit lagi di ATM, kartu debit saat itu nggak bisa dipakai karna Visa Waive dan mesin EDC pihak hotel nggak punya untuk Visa Waive, pakailah kartu kredit saya mulai dari yang modelan Visa, Mastercard, dan JCB nggak bisa dipake. Duit di dompet nggak cukup, akhirnya minta ke pihak hotel buat coba sekali lagi di kartu JCB, Alhamdulillah bisa akhirnya. Nggak tahu kenapa tadi gagal, mungkin masalah koneksinya.

Jika gagal, nggak tahu harus bobo di mana malam itu karna tidak ada udah datang telat harus dibebani masalah pembayaran itu bikin badan tambah capek banget.

Baca juga : [ Travel Photography ] - Macau , Las Vegas From East that not Only About Gamblingfrom.html

Pendemik Dunia  Covid-19

Nggak pernah kebayang kalau saya akan mengalami namanya pendemik dunia sepertidi film-film Hollywood serta film Korea - The Flu. Rasanya satu per satu rencana bisa hangus seketika. Perjalanan yang harus saya dan teman saya lakukan di awal bulan Maret harus dihantui rasa ragu haruskah tetap pergi ke Vietnam atau membatalkan tiket yang sudah dibeli sejak tahun 2019? Pembahasan dengan teman sekantor hanya sekitar itu-itu saja. Bikin saya jengah sendiri. Bahkan kami yang jarang banget untuk update berita mau nggak mau harus mulai mencari tahu tentang kondisi di Vietnam dan Indonesia sendiri. Saat itu kasus di Indonesia belum ada, sementara di Vietnam sudah ada kasus, dan untungnya kesemua kasus di Vietnam sudah dinyatakan sembuh semua. Walhasil saya sudah berani untuk mengatakan bahwa saya akan tetap melanjutkan perjalanan tersebut. Begitu juga dengan teman saya yang sepertinya mulai yakin untuk tetap pergi.

Dan ketika di tanggal 2 Maret, tiga hari menjelang keberangkatan saya ke Vietnam di tanggal 5 Maret, kasus baru di Indonesia mulai muncul. 2 orang sudah terjangkit virus Corona. Yang otomatis membuat kedua teman saya membatalkan perjalanannya dengan saya ke Vietnam. Sementara saya? Masih tetap positif untuk pergi ke Vietnam bersama dengan tante saya. Bukan karna saya sombong sebenarnya, bersikap cuek terhadap kejadian luar biasa yang ada di seluruh negera. Namun, saya sudah kadung beli tiketnya jauh hari sebelum ada informasi tentang wabah tersebut. Dan melihat kasus di Vietnam sendiri yang semua kasusnya sudah dinyatakan sembuh, membuat saya yakin bahwa saya dan tante saya nantinya akan baik-baik saja. Terlebih, jauh hari saya sudah menyiapkan kondisi, minum vitamin, serta menyiapkan semua peralatan perang menghadapi wabah di negara orang.

Dan ketika tiba di Ho Chi Minh City, saya dan tante sudah mulai menjaga jarak dengan orang lokal di sana. Masker mulut sudah mulai dipakai sejak keberangkatan, hand sanitizer sudah disiapkan di dalam tas, vitamin tetap dibawa serta menjaga makanan yang akan kami makan selama di Vietnam nantinya. Dan Alhamdulillah selama di Ho Chi Minh saya sehat dan tidak kurang satu apa pun. Dan selama di Ho Chi Minh City, kami selalu menjaga kebersihan di mana pun dengan hand sanitizer, memakan makanan halal, tidak jajan sembarang dan tidak bersosialisi dengan orang lokal atau turis lainnya di sana. Jadi hanya fokus mengunjungi tempat yang dituju sesuai rencana perjalanan.

Lalu, kondisi di Ho Chi Minh City sendiri bagaimana? Setiap mall di sana sudah menyiapkan hand sanitizer di pintu masuk, warga di sana selalu menggunakan masker. Warga di sana tetap menjalankan aktifitas secara normal. Tidak ada larangan pembatasan turis atau apa pun itu saat saya di sana. Walaupun begitu, setelah tiba di Jakarta, saya dan tante memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri. Artinya tidak kontak langsung dengan keluarga sendiri, karna saya tidak yakin juga dengan kondisi saya saat itu takutnya saya membawa virus yang nggak jelas dapatnya dari mana walaupun saya merasa tubuh saya sehat. Dan akhirnya melakukan pre-screening di RSPAD Gatot Subroto untuk memastikan bahwa saya tidak terjangkit virus atau memliki gejalanya. Dan Alhamdulillah, saya sehat dan normal.

Itinerary yang Berubah di Hari H di Vietnam

Memang nggak ada yang pasti di muka bumi ini. Bahkan ketika semua sudah tiba di tempat tujuan yang harusnya tinggal mengikuti rencana perjalanan / itinerary  malah benar-benar ambyar harus berubah total. Semuanya karna tas koper saya tidak saya temukan di bandara Tan Son Nhat . Sudah sejam dicari dan ditunggu di tempat pengambilan bagasi di bandara namun tidak kunjung terlihat tas koper saya dan tante saya. Walhasil harus melampor ke bagian Lost and Found di bandara tersebut.



Setelah di cek ternyata status tas koper saya masih berada di KLIA - Malaysia dan baru akan diberangkatkan kembali ke Ho Chi Minh keesokan harinya. Tante saya marah besar, saya udah nggak bisa mikir lagi. Yang artinya semua rencana perjalanan yang sudah saya buat untuk ke Hanoi dan Sapa bubar jalan. Kalau kayak gini ceritanya saya harus mulai dari NOL lagi. Yaa cari hotel di Ho Chi Minh karna saya belum memesan hotel untuk di Ho Chi Minh di hari pertama, mulai membatalkan semua hotel yang sudah dipesan di awal baik di hotel di Hanoi, Sapa dan Ho Chi Minh di hari akhir serta  membatalkan keberangkatan ke Hanoi dan Sapa karna sejak awal saya sudah salah prediksi jarak tempuh perjalanan via sleepers train yang seharusnya memakan waktu 2 hari bukan sehari.



Karna semua baju, skin care, obat-obatan dan lain-lain semua ada di tas koper, sementara saya hanya punya satu baju di badan dan tas yang isinya kamera serta uang saja. Akhirnya mau nggak mau saya harus ke salah satu mall di depan penginapan saya untuk membeli baju, daleman dan sabun wajah. Karna jujur, wajah muka saya udah nggak ngerti lagi modelannya kayak apa.

Dan keesokan harinya, di malam hari setelah berberapa kali menelpon pihak lost and found bandara dengan segala emosi yang ada serta di tengah kekhawatiran apakah benar tas kami sudah berada di bandara dan akan dikirim ke hotel kami, tas koper kami ada di bandara dan akhirnya dikirim ke hotel tempat kami menginap. Dan saya bisa pakai baju yang ada di koper dan menghemat membeli baju di sana .

Kehabisan Ide Itinerary? Coba Pakai Traveloka Experiences.

Karna semua itinerary kami berubah, dan bingung harus ke mana lagi selama di Ho Chi Minh. Yes, kami memang akhirnya memutuskan hanya akan berada di Ho Chi Minh dari awal kedatangan sampai akhir, karna seperti yang diketahui jarak tempuh menggunakan kereta ke Hanoi membutuhkan waktu 2 hari sehingga tidak akan bisa untuk menikmati kota Sapa di liburan kali ini, ditambah dana terbatas dikarenakan kami harus memesan hotel di Ho Chi Minh akibat drama koper tersebut.





Setelah hampir semua tempat menarik dan mainstream dikunjungi selama di Ho Chi Minh akhirnya mulai kehabisan ide untuk menghabiskan sisa hari yang masih tersisa di Ho Chi Minh, dari pada diam di dalam hotel, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti Mekong Delta Tour yang ada di Traveloka Experiences. Walaupun selama traveling saya belum pernah mengikuti tour di suatu negara dengan biaya sendiri.



Proses booking yang mudah dan murah membuat saya akhirnya mau mencoba. Tinggal buka aplikasi Traveloka, klik Things To Do dan pilih Traveloka Experiences dan search Ho Chi Minh  informasi mengenai paket wisata dan munculah paket wisata My Tho dan Ben Tre Journey - One Day Tour dan beberapa paket tour wisata lainnya di kota yang dituju.



Lalu, gimana prosesnya?
Setelah memilih tour yang diinginkan, tinggal tentuin waktu serta berapa orang yang akan ikut tour tersebut dan proses pembayaran bisa menggunakan transfer atau kartu debit dan kredit secara online.



Setelah pembayaran selesai dilakukan, pihak traveloka akan mengirimkan konfirmasi serta voucher yang akan digunakan untuk di-redeem di lokasi operator tour tersebut. Nah kebetulan saya tinggal di De Tham Distrik 1 area, maka lokasi saya menuju tour operator tersebut hanya cukup berjalan kaki saja sekitar 200 meter dan voucher tersebut bisa digunakan.




Apa aja yang didapat dari voucher tersebut selain tournya?
Menggunakan bus berpendingin udara, tempat duduk di bus yang tempat kakinya cukup luas , air mineral serta mendapatkan paket makan siang di tempat wisata. Pokoknya paket tour yang ditawarkan oleh Traveloka Experiences yang bekerja sama dengan lokal operator mampu membuat sisa liburan saya di Ho Chi Minh jadi menyenangkan.


Banyak banget kejadian tidak menyenangkan selama traveling yang saya alami. Memang, ada baiknya untuk menyiapkan waktu, mental, rencana cadangan serta dana lebih jika semua hal yang sudah direncakanan mendadak berubah di hari H. Tapi, kadang kejadian yang tidak menyenangkan tersebut justru membuat cerita lain yang akan terus dikenang selamanya, kan?! Karna semuanya menjadi pelajaran dan pengalaman dari setiap perjalanan yang dilakukan.

Jadi, ada cerita shit always happen apa yang pernah terjadi selama kalian traveling, Fellaz? Cerita dong!


Kiss and Hug
Vindri P.



IG : @veendoorie




You Might Also Like

0 comments

Followers

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe