.

[ Artikel ] - Ketika Burn Out Syndrome Menyerang, Lima Tempat di Sekitaran Jakarta Ini Bisa Banget Bikin Semangat dan Suasana Hati Kembali Baik - Part 1

8:54:00 PM



Alarm ponsel saya berbunyi pada pukul 5 subuh. Memaksa saya untuk bangun. Langit masih begitu gelap namun sayup-sayup suara tentangga yang sudah sejak jam 4 pagi memulai hari terdengar di telinga. Saya memastikan otak saya untuk tetap terjaga.  Dengan langkah gontai saya turun dari tempat tidur, menyucikan diri dari kedua telapak tangan saya hingga kaki, lalu bersimpuh di hadapan-Nya sambil merapal beberapa doa. Tidak sampai 10 menit, ritual itu selesai lalu saya kembali ke tempat tidur dan mulai membungkus tubuh dengan selimut hangat dan mulai membawa ke alam mimpi.

Semuanya tampak tenang dan sempurna hingga alarm kedua berbunyi dari ponsel saya pada pukul 07.30. Kembali memaksa otak untuk kembali terjaga dan menyadarkan bahwa rutinitas kali ini akan lebih panjang dari biasanya dan membosankan. Bangun pagi, cuci muka, minum air putih, olah raga 15 menit lalu mulai duduk di meja kerja sambil membuka laptop kantor yang jujur membuat saya muak, karna itu dilakukan semuanya di rumah selama hampir 8 bulan selama pandemi ini berlangsung dan hanya bisa dihitung dengan jari untuk bisa keluar rumah.

Segala rutinitas yang dilakukan berulang-ulang di tempat yang sama, suasana yang sama, kerjaan yang sama, masalah yang salam membuat segalanya terasa sesak. Otak saya terasa penuh, kepala saya terasa panas, rasanya ingin dikeluarkan. Biasanya jika semuanya mengimpit saya, melakukan traveling adalah cara yang ampuh untuk mendinginkan otak, karna jauh dari kerjaan dan orang-orang yang membuat saya tidak pernah berhenti berkerja. Namun, bagaimana jika traveling tidak bisa dilakukan di masa pandemi seperti sekarang?  Apa yang harus saya lakukan agar tetap waras sehingga saya tetap bisa produktif. Sebenarnya banyak macam yang bisa dilakukan namun yang bisa membuat otak saya tidak ngepul adalah melarikan diri dari semua rutinas yang ada.

Apa yang sedang saya alami saat ini adalah sindrom burn out yaitu sebuah kondisi di mana seseorang mengalami keletihan yang sangat besar secara emosional, fisik, dan mental  yang disebabkan oleh pekerjaan yang membuat stres secara berlebihan di tempat kerja ( menurut helpguide.org). Beberapa contoh kondisi burn out adalah emosi berlebihan terhadap pekerjaan, muak, bosan, tidak semangat dan enggan melakukan pekerjaan yang sedang ada di depan mata. Dan contoh kondisi tersebut saya rasakan selama melakukan work form home. Makin ke sini saya makin yakin  bahwa work from home tidak baik jika dilakukan berlama-lama apalagi jika kondisinya tidak memungkinkan untuk bisa keluar rumah untuk sekedar menenangkan otak, seperti saat melakukan short escape traveling.

Bahkan beberapa orang di twitter bilang bahwa kadang perusahaan masih menganggap bahwa work from home artinya work full hours yang mana kerjaan masih  bisa mengerjakan di luar jam kerja. Yaa secara tiba-tiba WA minta ini itu di hari libur atau malam hari. Nggak heran jika makin ke sini rasa stres makin besar. Banyak cara yang saya lakukan agar otak saya nggak ngempul banget, salah satu nya menghentikan waktu kerja tepat waktu, artinya nggak usah pake acara lembur-lembur atas nama loyalitas atau biar besok kerjaan sedikit ringan. Karna namanya kerjaan yaa nggak akan pernah habisnya.

Atau mencoba untuk menonton K-drama yang sudah lama tertunda, fangirling K-pop boygroup sampai kembali menghidupkan minat baca pada tumpukan buku yang belum terjamah. Semua sudah dilakukan. Namun karna semua proses dilakukan di rumah maka seperti tidak ada perubahan apa pun. Kerja di rumah, makan di rumah, nonton di rumah, baca buku di rumah, semua di rumah artinya semua tampak sama.

Otak saya masih haus melihat hal baru, melihat tempat baru, merasakan suasana baru dan semua hal yang baru. Maka, pelan-pelan saya coba memberanikan diri untuk bisa menikmati hal tersebut di kala pandemi. Dengan tetap menjaga diri dan jarak serta tetap memakai masker dan tidak terlalu lama di ruang tertutup tanpa sirkulasi udara yang jelas, saya mencoba mengunjungi beberapa tempat yang akhirnya bisa mengatasi masalah burn out saya.


Pantjoran Tea House.

 

 


Sudah cukup lama saya tahu mengenai kedai minum teh ini. Karna sering sekali masuk ke dalam sebuah cerita bagi penikmat bangunan tua peninggalan kolonial Belanda di Jakarta. Sehingga sudah berhasil  menarik minat saya untuk berkunjung ke kedai minum teh ini suatu hari nanti.

Sebenarnya, kedai minum teh ini termasuk baru berdirinya. Karna sebelumnya bangunan ini adalah sebuah toko obat yang berada di daerah Glodok atau Pecinan yang sudah berdiri sejak tahun 1928 dan terletak persis di pangkal Jalan Pancoran Raya yang merupakan gerbang Pecinan. Toko obat ini dikenal dengan Apotheek Chung Hwa yang beroperasi hingga tahun 1957. Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah untuk menjadikan Kawasan Kota Tua sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO, bangunan ini direvitalisasi pada tahun 2015 oleh arsitek Ahmad Djuhara  dan beralih fungsi menjadi kedai teh dengan nama Pantjoran Tea House. ( source : Pantjoranteahouse.com ).




Walaupun sudah berhasil direvitalisasi oleh pemerintah, namun bentuk bangunannya tidak seperti dulu saat pertama kali dibangun di tahun 1928. Ada beberapa bagian yang hilang karna proses pelebaran jalan saat itu, dan sehingga bangunannya tidak sebesar saat pertama kali dibangun. Namun, beberapa bagian masih tetap dipertahankan bentuknya seperti aslinya.

Memasuki Pantjoran Tea  House seakan masuk ke kedai teh di negara Tiongkok. Beberapa ornamen khas negara tirai bambu, tangga kayu untuk mencapai lantai dua serta sekat-sekat yang memisahkan beberapa tempat benar-benar terasa seperti bukan berada di Jakarta. Apalagi pemilik kedai tetap mempertahankan tradisi Patekoan yaitu tradisi menyajikan delapan teko teh secara gratis bagi siapa pun yang melintas di sekitar bangunan kedai.




Tradisi teh gratis ini terinspirasi oleh Kapitan Tionghoa ketiga di Batavia dulu ( 1653-1666 )  yaitu Kapitan Gan Djie dan istrinya yang sering melihat para pedangan di Batavia dulu sering berteduh dari panasnya Batavia. Sehingga istri dari Gan Djie yang lebih akhirnya dikenal sebagai Nyai Gan Djie mengusulkan untuk memberikan air teh gratis di depan bangunan tersebut. Oia, kenapa harus delapan teko, karna di budaya Tionghoa sendiri angka delapan artinya angka keberuntungan karna angkanya tidak pernah putuh atau selalu nyambung antara setiap pangkalnya.

Lalu, apa saja saja yang dijual di kedai teh ini? Selain menyajikan teh yang memang sebagai menu inti dari kedai teh ini, mereka juga menjual menu Chinese food lainnya. Dan serius, itu enak banget. Memang harganya cukup mahal cuma kalau makannya di berbagi sih, saya rasa masih worth to try karna memang enak banget. Bumbunya terasa khas Chinese Food nya.



Saat itu saya mencoba sepaket menu tradisi minum teh, artinya ada ritual minum teh yang dilakukan di awal.  Mulai dari bagaimana cara menyeduh teh, cara memegang cawan teh serta meminumnya. Dan bagi penggemar teh seperti saya, teh nya enak banget. Aroma tenang, sejuk serta hijau tehnya terasa saat dihidu. Apalagi beberapa jenis teh yang dijual musiman artinya hanya di waktu tertentu tersedia karna proses memetik daun teh yang dari negeri asalnya lah yang tidak bisa dilakukan tiap waktu serta kualitas teh nya adalah yang terbaik. Tidak heran memang jika harganya cukup menguras kantong untuk seporsinya.









Saya memilih Bai Hao Yin Zhen  atau Silver Needle White Tea seharga IDR 200.000 dengan biaya minimum sebesar IDR 60.000/ orang plus sudah termasuk proses Gongfu Cha atau ritual minum teh nya.  Daun tehnya berbentuk panjang seperti jarum dan kalau dicicipi daunnya renyah seperti biji kuaci. Sementara saat diseduh airnya bening. Bagaimana dengna rasanya? Tidak berasa pahit, namun terasa gurih seperti teh Geinmacha Jepang ( Teh hijau dengan rasa beras ) dan wangi khas teh hijau. Saat diminum juga tidak meninggalkan rasa berat di tenggorokan. Dan menurut informasi teh ini hanya dipetik di sekitaran akhir tahun sampai awal tahun saja.  Oia jika saat penyajian daun tehnya masih ada tersisa, maka bisa dibawa pulang kok. Jadi masih bisa menikmati di rumah.

Location :

 

 

 

Edensor Hills Villa &Resort

 

 


Lokasi kali ini berada di luar Jakarta. Yaitu tepatnya di daerah Sentul. Saya memilih tempat ini karna ingin melihat pemandangan alam yang juga bisa didapat dari Edensor Hills. Nama Edensor sendiri diambil dari nama sebuah desa cantik di Inggris yang juga mengilhami novel karya Andrea Hirata dengan judul sama Edensor. Tidak heran memang jika resort ini menggunakan nama desa itu karna jelas dari segi bangunan villanya terinspirasi dari bangunan desa di Edensor sendiri. Salah satu bangunannya bahkan menggunakan konsep menara kastil yang dipenuhi dengan tanaman liar merambat di dindingnya. Serasa sedang berada di negeri dongeng.





Jalan menuju Edensor Hills cukup jauh dari jalanan utama Sentul, karna harus memasuki kawasan warga dengan jalan yang hanya bisa dilalui oleh 2 mobil saja bahkan hanya bisa 1 mobil saja secara bergantian. Jalanannya cukup terjal seperti jalanan ke Gunung Pancar namun masih mendingan jalan menuju Edensor sih.  Dari jalanan utama sekitar 20 menit untuk bisa sampai di lokasi.

Oia, untuk bisa menikmati pemandangan dari bukit tidak perlu menginap di Villa dan Resort ini, karna pengunjung biasa bisa juga menikmatinya dengan cara makan di restorannya dan bisa menikmati view gratis di sebuah spot tertentu dengan cara memperlihatkan struk pembayaran atau bisa juga langsung membayar untuk bisa masuk ke dalam spot foto idaman dengan HTM IDR 20.000 / orang.




Dari segi menu makanan, cukup standar seperti nasi goreng, aneka pasta dan spagetti serta beberapa cemilan lainnya. Namun, karna Edensor Hills Villa & Resort fokus pada pemandangan, maka rasa makanan yang saya coba sebelumnya yaitu pasta, terasa biasa. Tidak spesial. Jadi, untuk jenis pasta saya tidak merekomendasikan tapi untuk minumannya yaitu Ginger Lemongrass Tea, ini cukup enak bahkan terasa segar ketika diminum di hari yang panas.









Lalu, bagaimana dengan dekorasi dari restorannya sendiri. Edensor Hills menata restorannya dengan konsep seperti di Inggris.  Beberapa ornamen lampu gantung serta lampu dindingnya membuat seperti berada di negera lain. Edensor Hills juga menawarkan pemandangan yang bisa membuat stres di kepala cepat hilang. Karna bisa melihat air terjun dari dalam restoran adalah hal yang luar biasa.

 








Location :

 

 

Harga makanan : IDR 30.000 - IDR 150.000

 

 

Umauma Eatery & Shop

 





Menemukan tempat ini sebenarnya tidak sengaja. Iseng nyari di Google dengan kata kunci Jakarta Hidden Gem di sekitaran Blok M, lalu menemukan kafe yang lucu banget dari segi interior. Kafe ini terletak tidak jauh dari pintu keluar F MRT Blok M BCA, setelah menuruni tangga jalan sekitar 100 meter, langsung bisa menemukan kafe ini. Karna berada di sekitaran jejeran ruko dekat ATM BNI.

Kafe kecil ini menawarkan tempat yang nyaman banget. Karna tempatnya terlihat homey dengan banyak pot bunga di dalam kafe serta ornamen yang estetik banget. Selain sebagai kafe, Umauma juga menjual beberapa barang kerajinan UKM seperti minyak aromaterapi, sabun batang dll. Apalagi warna dinding pastel yang bikin ceria ketika berada di sini.







Saat ke sana, pengunjungnya tidak terlalu banyak hanya ada 3 meja yang terisi jadinya enak gak berisik dan berdesak-desakkan di zaman pandemik gini. Interior di dalam kafe nya bagus, karna dibagi menjadi tiga area. Ada area di teras sekitar 2-3 meja dan kursi, area di dekat pintu masuk ada sekitar 3 meja dengan masing-masing meja terdiri dari 2 kursi serta bagian bawah yang harus ditempuh dengan turun tangga ada sekitar 4 meja dengan kursi sofa dan 2 kursi.






Karna warnanya yang cerah, jadi pas banget bisa buat foto-foto estetik gitu. Lalu dari segi makanan, menu yang ditawarkan cukup bervariatif. Ada Chicken wing dengan berbagai macam saus, pasta, mie goreng yang menggunakan bihun dan jamur serta es kopinya yang enak. Bagi penyuka kopi dengan tipe sedikit pahit, kopi susunya enak kok, berasa kopi Dolce Latte milik Family Mart. Sementara makanannya sendiri rasanya enak. Bukan enak yang mewah tapi enak yang sederhana karna terasa tidak terlalu banyak bumbu yang digunakan tapi tetap terasa nikmat.  Seperti ada campuran sedikit bumbu Korea di masakannya.

Berada di Umauma Eatery & Shop cocok banget bagi yang ingin menikmati waktu sendiri atau sekedar ngobrol panjang lebar dengan teman atau pasangan. Karna tempatnya yang nyaman serta tidak sumpek. Saya saja tidak sadar jika sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam berada di sana.


Location :

 

Range : IDR 30.000 - IDR 150.000,-


Selain menjaga kesehatan badan agar terhindar dari Covid-19, menjaga mental di saat pandemi seperti ini juga dibutuhkan. Apalagi kondisi saat ini yang membuat segalanya menjadi terbatas untuk sekedar mengistirahatkan otak. Mungkin mengunjungi tempat baru yang jauh dari keramaian adalah cara yang cukup bisa mengusir kejenuhan akibat terus menerus bekerja di rumah tampa henti. Ketiga tempat tersebut mampu membuat saya semangat lagi untuk menghadapi tenggang waktu kerjaan yang semakin mepet, rapat sana-sini, serta masalah kerjaan yang tidak pernah kenal henti. Namun, harus tetap pintar-pintar mencari tempat jauh dari keramaian sehingga protokol kesehatan tetap bisa diterapkan.

Masih ada dua tempat lagi yang akan saya ceritakan di artikel berikutnya di part 2. Saat ini, nikmati dulu tiga tempat ini,selamat berjuang, Fellas! Stay healthy and stay safe!

 

Vindri Prachmitasari

 

Email : Vindri.prachmitasari@gmail.com

IG       : @veendoorie 


You Might Also Like

0 comments

Followers

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe