.

[ Book Review ] - The Books that I’ve Finished in 2020.

7:10:00 PM




Kalau dipikir-pikir 2020 itu adalah tahun yang merubah semuanya. Mulai dari merubah bahkan membatalkan rencana perjalanan, gaya hidup, pola pikir serta cara kerja. Bahkan kembali menumbuhkan salah satu hobi yang sempat terlupakan beberapa tahun terakhir hanya karna situasi pandemi yang saat ini masih berlangsung di Indonesia dan dunia.

Sampai saat ini saya masih bekerja dari rumah. Perusahaan tempat saya bekerja meminta untuk karyawan yang bekerja di kantor pusat untuk tetap bekerja dari rumah walaupun beberapa perusahan lainnya sudah memberlakukan bekerja dari kantor sejak Juli atau Agustus 2020. Hanya bagian operasional saja yang masih bekerja dari kantor dengan sistem selang seling demi mencegah penularan virus Covid 19 dari klaster perkantoran yang lebih besar lagi.

Semuanya berubah membuat saya saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Jenuh sudah pasti. Burn out apalagi itu, sudah jelas pernah terjadi. Karna situasi yang tidak menentu di Indonesia serta dunia dan otak saya butuh kabur dari semua hal yang menyesakkan, maka saya butuh sesuatu yang menenangkan otak serta memberikan nutrisi baik bagi cara pandang serta pengetahuan saya, yaitu membaca buku.

Membaca memang sudah menjadi hobi saya sejak dulu. Namun dua atau tiga tahun terakhir minat baca saya makin hari makin menghilang. Rasanya jenuh dengan jenis bacaan yang itu-itu saja. Ditambah penulis favorit saya sudah jarang untuk menerbitkan karyanya, walhasil saya selalu saja meleset dari target tahunan membaca buku.

Sejak tahun 2013 saya selalu mengatur target baca saya di website pecinta buku, Goodreads.com, dan hampir semua mencapai target baca bahkan pernah sempat pernah menghabiskan 30 buku dalam setahun padahal target saat itu hanya 25 buku. Dan setelah itu saya tidak pernah mencapai target lagi. Sibuknya pekerjaan, traveling sana sini, menggeluti hobi baru yaitu fotografi serta sibuk menulis blog membuat saya sepertinya tidak punya waktu lebih untuk sekedar membaca.  Padalah membaca adalah sesuatu yang saya senangi ketika harus kabur dari dunia nyata. Hanya saja saya seperti kehilangan ‘feel’- nya .

Dan bersyukur, di tahun 2020 dengan kondisi yang seperti ini, memaksa saya kembali membuku buku dan mencoba memancing minat membaca saya lagi yang sudah terkubur sebelumnya. Dan Alhamdulillah, saya berhasil menghidupkan kembali minat baca saya. Memang, tidak banyak buku yang saya baca di tahun 2020, tapi semuanya melebihi target jumlah buku yang saya patok untuk dibaca.

Saya sadar, di tahun 2020, jenis bacaan saya sudah berubah. Tidak melulu tentang fiksi romansa  atau fantasi yang dulu saya gemari, tapi lebih ke pengembangan diri. Mungkin ini karna ada hubungannya dengan pandemi yang sedang melanda dunia sehingga otak perlu didinginkan serta diberi asupan bermanfaat di luar fiksi romansa.

Makanya,saya ingin berbagi judul buku yang sudah saya baca di tahun 2020, tidak banyak memang, tapi semoga kalian suka dengan pilihan buku yang sudah saya baca walaupun terkendala dengan review saya yang seadanya.

 

1. Destroy Me ( Shattered Me #1.5 ) - Tahereh Mafi

 

 


Mengawali tahun 2020, saya mulai membaca novela ini. Destroy Me adalah sebuah novela dari seri novel fantasi Tahereh Mafi. Saya baca via e-book Google Play Book. Karna ini novela sehingga jumlah halamannya hanya sedikit, dan yang dibahas di sini adalah tentang Warner salah satu tokoh utama pria di dalam novel karya Tahereh Mafi. Membaca novela ini saya jadi tahu isi pikiran dari Warner yang awalnya adalah seorang pria yang jahat namun berubah menjadi begitu manis terhadap Juliette si tokoh utama wanita.

Untuk bisa membaca novela ini lebih baik membaca series Shattered Me ( buku 1 ) terlebih dahulu agar tahu seperti apa Warner di awal cerita. Series dari Shattered Me dkk ini memang menarik untuk dibaca, selain seru porsi aksi dan romansa seimbang bahkan membuat saya nagih untuk menghabiskan series tsb dalam waktu singkat padahal jumlah halamannya cukup banyak.


2. Filosofi Teras - Henry Manampiring

 

 


Buku ini sangat booming saat pertama kali terbit di tahun 2018. Dan saya baru bisa dan sempat serta tertarik membacanya di tahun 2020. Karna saat terbit saya belum menyukai genre self development atau self healing. Yang ada di otak saya saat itu cuma fiksi romansa dan fantasi saja. Maka buku ini tidak berhasil menarik minat baca saya. Berhubung di tahun 2020 pandemi melanda dan bekerja di rumah artinya tidak ada pembeda antara hal yang berhubungan dengna kantor dengan rumah, maka saya memutuskan untuk mulai membaca buku ini karna beberapa review yang bagus di Goodreads.com serta sepertinya saya butuh bacaan yang bisa mengendalikan tingkat stres saya.

Saya mulai membaca buku ini di bulan Juni, dan butuh sekitar hampir satu bulan untuk menghabiskannya. Karna buku jenis ini bagi saya tidak bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi harus diresapi tiap-tiap bab yang ada di dalamnya. Hal itu penting buat saya agar bisa memahami dari sisi psikologinya. Walaupun jenis bahasa yang digunakan cukup mudah dicerna tapi saya ingin membaca buku ini agar bisa meresapi dan tidak mudah dilupakan isi di dalamnya.

Membaca buku ini membuat saya tahu bahwa ada hal yang di luar saya yang tidak bisa saya kendalikan, dan karna hal tersebut di luar kendali saya, saya seharusnya tidak menghabiskan tenaga saya untuk memikirkan bagaimana hal tsb bisa menjadi kendali saya. Jika ingin hidup lebih tenang, sebaiknya mulai membatasi hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan jika itu bukan sesuatu hal yang bisa dikontrol. Ini bantu banget buat saya, yang kadang saya selalu berusaha untuk bisa mengendalikan semuanya agar membuat saya kerja saya lebih enak, padahal itu justru merugikan saya sendiri, yaa mentok-mentoknya saya sering kesal sendiri, marah-marah sama kerjaan, serta merasa bahwa saya kurang dalam bekerja. Yang pada akhirnya justru membuat saya stres karna ulah pikiran saya sendiri.

Caranya adalah dengan menghalau energi negatif yang terjadi di luar diri kita dengan cara STAR ( Stop, Think-assess , Respond ) , apa itu STAR, saya rekomendasikan untuk segera membacanya jika belum baca yah.

 

3. Continuum -Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

 

 


Saya pernah membaca karya Ziggy sebelumnya yang berjudul - San Fransisco. Saya suka buku itu. Karna ceritanya beda dari yang lain serta cara penulisannya yang menurut saya beda. Dan kali ini saya mencoba mencoba membaca buku baru dari Ziggy lagi yang merupakan buku yang berisi cerita dengan ilustrasi dalam bahasa Inggris. Ceritanya sendiri saya kurang mengerti jika dibaca sambil lalu, namun yang menarik dari ceritanya adalah setiap ceritanya dituliskan secara berirama sehingga seperti sajak serta ilustrasinya yang bagus. Seperti ilustrasi di buku Little Prince. Maka saya mengkategorikan buku ini ke dalam sajak bergambar.

Saya membacanya via e-book di Gramedia Digital.

 

4. Yang Diacak-acak Seprei, Yang Berantakan Hati - Faizal Reza.

 

 


 

Saya membeli buku fisiknya di Gramedia. Dari segi judulnya saja sudah provokatif, sehingga tidak heran langsung menarik perhatian saya untuk membeli. Awalnya saya pikir buku fiksi ini akan lebih menceritakan hubungan yang lebih gelap dan penuh hasrat. Tapi, setelah saya membacanya tidak terlalu demikian. Buku ini adalah kumpulan cerpen yang kebanyakan berisi tentang perselingkuhan. Cerita yang menarik perhatian saya adalah cerita dengan judul ’ Tenggelam ’. Karna saya tidak menyangka jika akhirnya ceritanya akan dibawa pada seperti itu. Coba deh baca!

  

5. Malice - Catatan Pembunuhan Sang Novelis - Keigo Higashino

 

 


Ketika bingung harus membaca buku apa, tema kriminal dan thriller memang tidak akan pernah salah. Membaca novel ini karna referensi acak yang saya liat di Twitter. Dan tidak ada salahnya mencoba, begitu pikiran awal saya. Buku terjemahan terbitan Gramedia ini langsung saya unduh e-book-nya via Gramedia Digital, dan langsung saya baca.

Tidak terlalu banyak teka-teki yang ditampilkan di novel ini. Sejak terjadinya pembunuhan, saya sudah tahu siapa pelakunya. Tidak akan butuh waktu lama untuk memberi tahu pelakunya siapa di buku ini, karna di pertengahan sudah diberitahu. Yang menarik adalah apa, bagaimana, dan kenapa pembunuhan ini terjadi menjadi cerita yang akan disampaikan sampai akhir oleh penulisnya.

Membaca buku ini tidak butuh waktu lama, karna ceritanya cukup menarik dan tidak membuat pusing seperti tema kriminal lainnya yang baru bisa ketebak siapa pelakunya di akhir buku.

 

6. The Time We Walk Together - Lee Kyu Young.

 



Dalam rencana memancing minat baca saya, maka tetap terus membaca walaupun dengan jenis buku yang tipis atau ilustrasi adalah salah satu jalan ninjaku. Ini adalah jenis buku dengan ilustrasi gambar yang bisa menghangatkan jiwa ketika musim hujan. Buku ini berkisah tentang penulis yang mengekspresikan cintanya pada pasangan dengan gambar-gambar yang penuh ke-uwu-an. Romantis banget. Buku ini cocok bagi yang sedang jatuh cinta atau lagi cinta-cintanya sama seseorang. Pasti bawaannya uwu banget. Tapi ketika saya yang baca, terasa seperti biasa saja. Tapi yang menarik adalah gambar ilustrasinya bagus banget. Seperti reka ulang adengan-adegan romantis di K-drama.

Saya baca via E-book Gramedia Digital.

 

7. Jangan Membuat Masalah Kecil, Menjadi Masalah Besar - Richard Carlson.

 

 


Buku ini membantu banget buat saya yang selalu overthinking atas kerjaan. Kadang saya merasa terlalu do extra mile atas segala yang bukan proporsi kerjaan saya. Hanya karna ‘ saya nggak mau nunggu lama’. Padahal itu buka bagian saya. Dan kadang saya juga merasa bahwa kalau kerjaan ini nggak bisa selesai hari ini, besok pasti akan datang bencana.

Namun, setelah saya membaca buku ini, saya tertampar bolak-balik. Karna apa yang saya lakukan selama ini terhadap kerjaan adalah salah. Salahnya adalah saya merasa bahwa kerjaan hari ini harus dihabiskan hari ini juga, artinya mengerjakan di malam hari pun tidak masalah, lalu saya merasa bahwa setiap masalah yang ada dikerjaan itu adalah bencana buat kelancaran kerjaan saya berikutnya.

Padahal, semua masalah yang muncul dalam kerjaan, bukanlah akhir dunia. Saya seharusnya tidak memusingkan masalah kecil tsb yang justru bisa membuat saya tambah stress. Pemikiran buku ini mirip dengan buku Filosofi Teras milik Henry Manampiring, hanya saja di buku ini dijelaskan lebih kepada kehidupan sehari-hari yang dihadapi. Membaca buku ini membuka pemikiran saya bahwa ada yang lebih penting dari sekedar marah-marah dan memusingkan hal-hal kecil yang justru bikin energi saya habis.

Buku ini saya baca via Gramedia Digital.

 

Memang kebanyakan buku yang saya baca saat ini adalah versi digital atau e-book. Karna jujur saja saya sudah tidak punya tempat lagi untuk membeli buku fisik karna keterbatasan ruang di rumah, sementara masih banyak buku fisik yang belum saya baca masih terbaring minta dibangunkan.

Tidak hanya badan yang perlu vitamin, otak juga butuh asupan bergizi. Hal ini bagus untuk membuka pemikiran dan meluruskan pemikiran yang salah selama ini. Dan jujur itu membantu banget selama masa pandemi ini.

Tahun ini saya mencoba menargetkan membaca buku sebanyak 10 buku saja. Saya tidak mau muluk-muluk atau memaksa diri karna membaca itu adalah urusan menikmati kan, bukan memaksakan kehendak. Nanti ujung-ujungnya malah jadi gak suka baca.

So, sudah menentukan jenis buku apa yang akan dibaca tahun ini, Fellas? Jika butuh referensi, monggo berkunjung di akun Goodreads saya.

 

Stay Healthy & Stay Safe!

 

Vindri Prachmitasari

 

Email : vindri.prachmitasari@gmail.com

IG      : @veendoorie

 

 

 

 

 

You Might Also Like

6 comments

  1. Banyak juga yang udh di baca ya kak, aku malah belum baca banyak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, awalan yg bagus buat menarik minat baca saya lagi heheh.. Gpp, yg sdh mau membaca karna memang menyenangkan, bukan karna terpaksa :)

      Delete
  2. Pandemi bikin kita melahap banyaj buku ya kak. Aku pun sama. Pilihan bukunya juga condong ke self help. Hehe
    Dari semua buku yang udah kak Vindri bahas, Filosofi Teras aja yang udah aku baca. Bukunya emang bagus bgt. Bantu kita ngelewatin Pandemi dgn gak overthinking.
    Aku tertarik baca "Jangan membuat masalah kecil jadi besar", sepertinya menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dari segala macam hiburan, membaca buku memang bantu banget di kondisi saat ini. Yuk, coba baca ' Jangan membuat masalah kecil jadi masalah Besar, ' rekomen kok :)

      Delete
  3. Wah, list2 diatas malah belom ada satupun yang aku baca Mba, kecuali yang Filosofi Teras. Udah mulai baca tapi masih mandek hahaha belom menemukan feelnya dalam membaca buku non-fiksi nih. Thanks buat rekomendasinya Mba 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa kok, buku self help memang butuh waktu buat dpt feel-nya, yang penting tetap melahap buku apa pun jenisnya. Sama-sama semoga membantu yah :)

      Delete

Followers

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe