.

5 Alasan Mengapa Yangon - Myanmar, Negara yang Sedang Mengalami Kudeta Harus Masuk ke Dalam Bucket List Kalian.

8:35:00 PM



Baru-baru ini nama Myanmar kembali muncul kepermukaan. Hal ini dikarenakan di Myanmar telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh pihak militer di tanggal 1 Februari dengan menangkap Presiden Win Myint yang didakwa atas tuduhan melanggar batasan virus corona serta penasihat Myanmar yaitu Aung San Suu Kyi yang didakwa mengimpor enam radio walkie - talkie secara ilegal.

Lupakan masalah kudeta tersebut, karna saya tidak ingin membahasanya secara rinci karna itu bukan ranah saya. Namun sejak beberapa tahun yang lalu ketika negara Myanmar mulai membuka diri di tahun 2010, pariwisata di Myanmar mulai terlihat geliatnya. Beberapa tempat wisata bahkan mulai sadar diri untuk mengembangkan pariwisata di Myanmar. Tidak heran, jika mengunjungi Myanmar di tahun 2019 mampu membuka mata saya bahwa Myanmar semenarik itu untuk dikunjungi lagi.

Nah, berikut adalah alasan mengapa Yangon - Myanmar wajib masuk ke dalam bucket list kalian setelah pandemi dan kudeta nantinya selesai yah.


Baca juga :  [ REVIEW ] - BACKPACKER BED AND BREAKSFAST YANGON, HOSTEL MURAH DAN NYAMAN DENGAN LOKASI STRATEGIS

 

Kota dengan Pagoda Spektakuler


Shwedagon Pagoda


Yangon memang merupakan kota metropolitan yang tidak lepas dari kehidupan religius mereka. Megahnya pagoda sebagai tempat ibadah mereka yang berhasil membuat mata wisatawan membelalak lebar, membuat kota Yangon juga dijuluki sebagai City of Gold oleh beberapa traveler. Ada empat pagoda yang wajib dikunjungi selama melakukan kunjungan ke Yangon. Salah satu pagoda yang termegah menurut saya adalah Shwedagon Pagoda.


Bagian Depan Shwedagon Pagoda


Baca juga : 5 HAL YANG BISA DILAKUKAN DI YANGON - MYANMAR, KOTA TUA CANTIK YANG PENUH KESEDERHANAAN.


Pagoda yang berlapis emas setinggi 98 meter yang terletak di bagian barat Danau Kandawgyi, di bukit singuttara ini mendominasi pemandangan kota Yangon. Bahkan dari pusat kota Yangon yang berada di jalan Sule, pagoda ini sudah terlihat. Tidak hanya itu, bagian di dalamnya yang dipenuhi dengan ornamen dan benda-benda keagamaan juga membuat siapapun tidak akan keberatan untuk membagi waktunya untuk sekedar melihat dan mengabadikan foto dari dalam area pagoda. Tidak ada larangan untuk mengambil foto di dalam Pagoda Shwedagon, namun tetap harus tetap menghargai warga lokal yang sedang beribadah di sana yah.



Beberapa patung Buddha juga terdapat di berbagai kuil yang ada di sekitaran area pagoda. Cukup membayar 10.000 Kyatt bagi wisatawan yang ingin melihat kemegahan dan ritual keagamaan yang sedang dilakukan di dalam pagoda. Gunakan pakaian yang sopan ketika memasuki pagoda yah Teman Traveler. Karna bagaimanapun ini merupakan area peribadatan yang harus dihormati.

Untuk menuju ke Pagoda Shwedagon bisa menggunakan bus lokal mudah ditemukan di kota Yangon. Cukup membayar 500 Kyatt sekali jalan, namun di Yangon juga tersedia taksi daring yang bisa digunakan sebagai alat transportasi, seperti Grab.

 

Ingin Melihat Jakarta Versi Tahun 70-an? Coba Berkunjung ke Yangon.


Jalan utama Sule Pagoda

Tidak salah memang jika ada yang pernah bilang Yangon mirip sekali dengan kondisi Jakarta di tahun 70-an. Selain bentuk bangunan yang masih terasa kolonialnya, kehidupan warga Myanmar dan warga Yangon pada khususnya yang masih membaur dengan tradisi serta kondisi transportasi yang masih jauh dari kata modern, membuat mata wisatawan yang datang berkunjung akan beranggapan sama.


Baca juga : [ EDISI YANGON ] - YANGON, OLD BUT GOLD

 

Street food di salah satu sudut kota Yangon

Namun, walaupun masih jauh dari kata modern, bukan berarti Yangon tidak layak untuk dikunjungi. Justru kondisi itu yang membuat banyak wisatawan khusunya dari negara Eropa senang mengunjungi Yangon. Kota Yangon menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh negara lainnya. Suasana tahun 70-an inilah yang menjadi daya tariknya.

Bagaimana warga Yangon mulai beradaptasi dengan perubahan pasca isolasi dari dunia luar, serta kehidupan mereka saat ini membuat segala sesuatunya tampak sederhana. Tidak ada hiruk pikuk yang berarti d Yangon, tidak seperti negara modern lainnya. Kehidupan di Yangon cukup tenang, sehingga merasa traveling ke Yangon seperti sedang bersantai.

Ini persis dengan kondisi Jakarta di tahun 70-an yang sedang mulai membangun. Mobil-mobil mewah jarang terlihat di jalanan, mall-mall juga tidak sebanyak di negara modern lainnya, gedung tinggi pencakar langit saja bisa dihitung dengan jari dan tingginya juga tidak seberapa. Bahkan merek kopi terkenal aja belum ada di Yangon. Suasana seperti ini bisa dirasakan di sekitaran jalan Sule. Karna pusat kotanya berada di sana sehingga kesan Jakarta tahun 70-an jelas terasa.


Kota dengan Tradisi yang Masih Kental.

 

Tidak bisa dipungkiri, mulainya membuka diri terhadap dunia luar memaksa warga Yangon untuk mulai melangkah ke masa depan. Pembangunan yang cukup gencar di kota Yangon, teknologi yang mulai dikembangkan, serta penggunakan ponsel pintar membuat kota Yangon mencoba untuk mengejar ketinggalan yang ada.

 

Beberapa gadis Yangon yang menggunakan Thanaka

Namun, dengan mulainya pembangunan di Yangon, lantas tidak membuat warga Yangon melupakan tradisi yang ada. Justru mereka tetap mencoba mempertahankan tradisi mereka dan tetap berjalan untuk tetap mengejar ketinggalan. Di jalanan banyak terdapat penjual sirih yang selalu dikonsumsi oleh warga Yangon. Rumah-rumah warga terdapat sebuah kuil kecil untuk tempat berdoa. Wangi semerbak dupa di pagi hari yang menambah semarak pagi bagi warga Yangon.

 

Anak sekolah tetap menggunakan Longyi sebagai pakaian harian mereka di mana pun berada.

Tidak hanya itu, setiap hari para wanita Yangon tetap mencintai penggunaan Thanaka ( bedak dingin yang biasanya digunakan pada dahi, kedua pipi, dagu, dan hidung) pada kehidupan sehari-hari mereka, sampai-sampai tetap digunakan ketika sedang berada di luar rumah lho. Penggunaan Longyi ( kain sarung yang digunakan oleh pria dan wanita Myanmar dengan corak berbeda untuk pria dan wanita) yang tetap digunakan di mana pun mereka berada, bahkan ketika bekerja di kantor, ke mall, ke sekolah membuat pemandangan Yangon terasa kental dengan tradisi dan terasa unik.

 

Kota yang Aman bagi Traveler


Pentingnya mengunjungi kota yang aman adalah impian semua traveler. Karna bagaimanapun keselamatan diri sendiri adalah yang terpenting ketika mengunjungi suatu kota atau negara. Tidak bisa dipungkiri, banyaknya kasus kekerasan terhadap traveler di belahan bumi lain membuat cemas para calon traveler lainnya. Lalu, bagaimana dengan Yangon? Banyaknya berita mengenai kekerasan yang terjadi antar beberapa golongan di Myanmar, membuat Yangon terasa sulit untuk memasukkannya ke dalam daftar tempat yang dikunjungi bagi beberapa traveler.

Namun, Teman Traveler tidak perlu khawatir. Karna sesungguhnya kasus kekerasan yang sempat beredar di berita tersebut tidak sampai menyebar ke Yangon. Warga Yangon sangat menjunjung tinggi toleransi. Terbukti beberapa tempat ibadah berdiri saling berdekatan. Banyak warga Muslim juga tinggal tidak jauh dengan warga yang beragama Buddha serta agaman lainnya. Mereka masih menjalankan ritual ibadahnya masing-masing tanpa ada kendala.

Begitu pula dengan kehidupan traveler di sana. Kota Yangon memberikan rasa aman bagi para traveler yang berkunjung ke Myanmar. Tidak adanya cat calling ( teriakan/ suitan pria ketika melihat wanita di dekatnya ), jalanan yang aman, warganya yang ramah bisa dipastikan membuat Teman Traveler akan menyukai kota Yangon dan merasa betah dan nyaman.

 

Surga bagi Fotografer

 

 

Bangunan High Court

Tidak melulu harus mem-posting foto traveling dengan outfit bagus dan latar belakang foto yang moderen, sesekali memotret kehidupan warga Yangon yang juga tidak kalah menarik sehingga juga layak untuk diabadikan. Apalagi bagi Teman Traveler yang memiliki hobi memotret, atau pun fotografer dengan tema human interest, Yangon adalah surganya. Di setiap sudut kota Yangon menawarkan pemandangan individu dari warga lokal yang menarik untuk diabadikan ke dalam kamera. Kehidupan warga Yangon yang masih terasa tradisionalnya di sebuah kota metropolitan, sudut-sudut bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan tidak pernah ditinggalkan oleh warganya di area Merchant Road atau di area dekat Mahabandoola Park di mana penjual kaki lima ramai di sana. Semuanya bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki mengililingi area tersebut. Dengan komposisi menarik tersebut, Yangon merupakan surga bagi fotografer.

Bangunan High Court


Nah, itu adalah beberapa alasan mengapa Yangon, Myanmar harus masuk ke dalam bucket list kalian. Pesona Yangon, Myanmar tidak kalah dengan negara lain. Mengunjungi Yangon membukan sudut pandang baru bagi kalian mengenai destinasi apa yang akan dikunjungi berikutnya. Traveling itu bukan sekedar bersenang-senang, namun juga menjadi arena pembelajaran bagi diri sendiri. Jadi, jangan lupa untuk membeli tiket murah ke Yangon yah, Fellas!

 

Stay healty & keep safe.

Vindri P.

 

 

E-mail : Vindri.prachmitasari@gmail.com

IG : @Veendoorie

 

 

You Might Also Like

0 comments

Followers

Member of

Blogger Perempuan
ID Corners

Subscribe